...Online Community buat semua JEBOLAN SmA N 11 Ambon...
 
IndeksPortailGalleryFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 77% orang Indonesia malas sikat gigi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ella pawa



Female
Jumlah posting : 235
Age : 28
Lokasi (kota-Prov) : manado
Pekerjaan/hobbies : mahasiswi
Angkatan Kelulusan : 2005
Registration date : 09.03.08

PostSubyek: 77% orang Indonesia malas sikat gigi   Fri Feb 06, 2009 8:18 am

Gigi tak sehat alias berlubang memang menjadi sumber segala hal. Bukan sekadar masalah penyakit saja, dalam pergaulan sosial pun, gigi berlubang bisa berdampak hubungan dengan kawan bahkan pacar menjadi berantakan.

Sayangnya mayoritas orang Indonesia cenderung abai dalam memelihara kesehatan giginya. Drg Zaura Rini Matram MDS praktisi kedokteran gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menyebut 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena menurut Rini 77 persen orang Indonesia ternyata malas gosok gigi alias tak pernah gosok gigi.

Data ini pun sesuai dengan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2004 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan. Survei itu menyebut prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05 persen. "Karies hanya merupakan salah satu bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut masyarakat," kata Rini dalam kesempatan seminar tentang kesehatan gigi di Jakarta yang berlangsung belum lama ini.

Gigi yang berlubang tentu memang tidak sehat. Masyarakat di Indonesia masih belum mempertimbangkan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini menurut Rini terlihat dari separo orang Indonesia berusia di atas 10 tahun mengidap masalah karies (lubang) gigi yang belum teratasi. Fakta yang lainnya adalah orang Indonesia yang menderita penyakit gigi dan mulut tersebut bersifat agresif kumulatif. Artinya daerah yang rusak tersebut menjadi tidak dapat disembuhkan.

Itu sebabnya masyarakat pada awal-awal sebelum terkena penyakit gigi dan mulut mengabaikan sakit yang ditimbulkannya. Padahal ketika sudah menjadi sakit, penyakit gigi merupakan jenis penyakit di urutan pertama yang dikeluhkan masyarakat. Data ini berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga servei kesehatan nasional (SKRT-Surkesnas) tahun 2001 yang menyebut penyakit gigi dikeluhkan 60 persen penduduk Indonesia.

Data yang dikeluarkan PT Unilever Indonesia Tbk sebagai salah satu produsen pasta gigi dengan merek Pepsodent menyebut keluhan sakit gigi mencapai 13 persen per bulan. Atau sebanyak 2.620.000 penduduk per bulan.

Tanpa disadari keluhan penyakit gigi tersebut juga berdampak terhadap produktivitas si penderita. Keluhan sakit gigi berakibat seseorang tidak masuk kerja atau pergi ke sekolah. Gangguan tersebut rata-rata 3,86 hari dengan kisaran berhenti berakitivitas antara 2,5 hari hingga 5,28 hari. Masyarakat yang menderita sakit gigi 87 persen di antaranya tidak berobat ke dokter gigi. Sementara 69,3 persen berupaya mengobati sendiri sakit giginya tersebut.

Rugi Ekonomi

Produktivitas terganggu akibat penyakit gigi memang sudah menjadi fakta yang jelas. Tidak hanya dari sisi medis, ketidakpedulian masyarakat pada penyakit gigi dan mulut secara ekonomis juga merugikan. Tahun 2002 International Dental Journal melansir data bahwa di banyak negara penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit keempat yang paling mahal biaya penyembuhannya.

Pengobatan penyakit gigi berlubang berdasarkan data tersebut membutuhkan biaya hingga 3.513 dolar AS per 1.000 orang anak. Anggaran tersebut melebihi anggaran kesehatan yang diperuntukan bagi anak-anak di negara-negara yang paling rendah pendapatan per kapitanya.

Drg Rini mengatakan jika 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit karies berarti terdapat 350 juta gigi berlubang di Indonesia yang harus ditambal oleh dokter gigi. Menurut dia rata-rata 2 gigi orang Indonesia giginya berlubang per tahun.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk menambal gigi berlubang berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu. "Jika diasumsikan rata-rata biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 25 ribu maka total biaya yang harus dianggarkan Rp 8,75 triliun," ujar Rini.

Selanjutnya menurut Rini, dengan cara menggosok gigi secara teratur setidaknya bisa mengurangi 20-25 persen plak pada gigi dengan pasta gigi yang mengandung flouride. Rini mengatakan dengan asumsi ini pula gigi berlubang setidak bisa berkurang menjadi 70 juta saja. Dengan demikian anggaran yang dikeluarkan menjadi Rp 1,7 triliun saja.

Penting pula disadari oleh masyarakat penyakit gigi yang dibiarkan tentu menjadi sumber bagi komplikasi lainnya. Gigi berlubang adalah sarang bakteri yang pada gilirannya menjadi sumber penyakit atau infeksi untuk penyakit lainnya.

Dari penyakit gigi berlubang akan meninggalkan racun, sisa-sisa kotoran serta bakteri yang bisa menjadi sumber infeksi bagi penyakit lain seperti ginjal, jantung, mata dan juga penyakit kulit.

Gerakan Penyadaran

Kunci dari perbaikan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat sangat mungkin tergantung pula dari partisipasi banyak pihak. Edukasi menjadi penting karena menurut Drg Rini hanya 10 persen orang Indonesia dengan cara yang benar gosok gigi. Bahkan sebanyak 22 persen di antaranya menggosok gigi hanya kadang-kadang saja.

Tingkat pendidikan tampaknya memiliki hubungan dengan penyakit gigi. Sebanyak 63 persen penduduk Indonesia menderita karies yang tidak diobati dengan tingkat rata-rata 1,89 penyakit karies per orang. Persentase tersebut semakin turun pada kelompok masyarakat yang pendidikannnya kian tinggi. Orang Indonesia yang terkena karies menjadi 50 persen pada masyarakat berpendidikan SLTA dan pada jenjang perguruan tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang, kian tinggi pula tingkat kesehatan gigi dan mulutnya.

Beragam fakta seperti itu mendorong banyak pihak tergerak melakukan program penyadaran. Gerakan Nasional Senyum Indonesia barangkali satu di antara program agar masyarakat lebih sadar pentingnya kesehatan gigi dan mulut.

Karena sudah disebutkan pendidikan mempunyai korelasi dengan tingkat kesehatan gigi, agaknya ini pula yang menjadi perhatian. Pendidikan kesehatan gigi menjadi penting.

Fakta-fakta di atas juga membuktikan rendahnya kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk memprioritaskan kesehatan gigi dan mulut secara optimal. Orang Indonesia memang cenderung mengabaikan perawatan kesehatan gigi. Padahal gigi terawat bisa mereduksi gigi berlubang dan juga penyakit gusi berdarah.

Bila proses edukasi sudah terlaksana, mestinya dukungan pelayanan kesehatan gigi pun menjadi perhatian pula. Seperti diketahui keterjangkauan dukungan tenaga medis untuk mengatasi penyakit gigi saat ini masih terjadi. Hal ini disebabkan tingginya angka penderita penyakit gigi di Indonesia.

Data yang dilansir Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia menyatakan rasio tenaga dokter gigi terhadap jumlah penduduk masih rendah yaitu 1 berbanding 21.500 penduduk. Sedangkan tenaga perawat gigi 1 berbanding 23.000 penduduk. Sementara menurut ketentuan WHO, idealnya rasio tersebut adalah 1 berbanding 2.000 penduduk. Jumlah penduduk Indonesia adalah 224 juta orang, maka rasio di Indonesia masih jauh dari ideal.

Senyum

Entah secara kebetulan atau tidak tema penyadaran masyarakat agar bebas dari penyakit gigi adalah Gerakan Nasional Senyum Indonesia. Selama 14 abad lalu, bahasa agama mengajarkan senyum adalah ibadah. Tidak hanya sekadar ibadah, senyum pun bermakna dan berdampak bagi kesehatan.

Apalagi menurut definisi WHO, kesehatan meliputi pula keadaan sejahtera secara menyeluruh baik fisik, mental, dan sosial serta tidak hanyak terbebas dari penyakit dan hilangnya kebugaran tubuh.

Seseorang yang sedang sakit gigi tentu sulit mengeluarkan senyum. Kalau pun sakit gigi itu hanya berupa lubang, secara psikologis pun mengganggu interaksi sosial si penderita. Sebab dari gigi berlubang bisa muncul bau tak sedap saat bernapas. Tentu ini mengganggu dalam pergaulan dalam masyarakat.

Saat tersenyum akan ada perasaan rileks dalam tubuh manusia. Senyum dan tawa seseorang dalam 100 kali sehari dapat mendatangkan manfaat kardiovaskular setara dengan melakukan gerakan senam selama 10 menit. Dengan senyum pula akan dihasilkan endorfin dalam otak. Endorfin tersebut akan mengurangi rasa sakit yang pada akhirnya membuat orang merasa lebih nyaman.

Tapi apalah artinya bila menderita sakit gigi. Penderita sakit gigi sulit mengeluarkan senyum. Karena itu penting mencegah penyakit gigi berlubang misalnya dengan cara menggosok gigi teratur dengan pasta gigi mengandung flouride. Drg Rini menyarankan agar mengurangi pula makanan yang lengket serta rajin kontrol ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali.

Menurut Rini 10-15 jam setelah makan sisa makan di mulut terasa menjadi asam (PH asam) lebih asam dari cuka. Asam tersebut merusak lapisan email paling luar menjadi lunak dan mudah larut. Sehingga akan lebih baik kalau lapisan tersebut terus menerus dilapisi dengan flouride yang terdapat pada pasta gigi.

"Kalau lapisan email paling luar itu lunak dan larut berulang-ulang selama 6 bulan berakibat gigi menjadi berlubang," katanya. Selama sebelum waktu tersebut memang tidak terasa apa-apa dan tidak terlihat adanya gejala sakit.

Dia menjelaskan masyarakat bisa menggunakan pasta gigi yang memenuhi persyaratan seperti menunjukkan kegunaan untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut. Menurutnya pasta gigi tersebut juga harus mengandung whitening (pemutih) serta bisa pula mencegah karies. Bila ini sudah dilakukan tentu bisa berharap untuk terus tersenyum.


sumber : http://aliyyaa.multiply.com/journal/item/15/Jorok_77_Persen_Orang_Indonesia_Malas_Sikat_Gigi_
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ella pawa



Female
Jumlah posting : 235
Age : 28
Lokasi (kota-Prov) : manado
Pekerjaan/hobbies : mahasiswi
Angkatan Kelulusan : 2005
Registration date : 09.03.08

PostSubyek: Re: 77% orang Indonesia malas sikat gigi   Fri Feb 06, 2009 8:21 am

Jadi tman2 disini tergolong yang 77% or ... ???


hehehehehehehehe .......................
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
77% orang Indonesia malas sikat gigi
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ALuMni SMA nEgERi 11 aMbOn :: NEWS INFO :: Kesehatan-
Navigasi: