...Online Community buat semua JEBOLAN SmA N 11 Ambon...
 
IndeksPortailGalleryFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 WAJAH BURAM EMANSIPASI WANITA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
icetea



Female
Jumlah posting : 23
Age : 28
Lokasi (kota-Prov) : Malang
Pekerjaan/hobbies : nulis
Angkatan Kelulusan : 2005
Registration date : 26.02.08

PostSubyek: WAJAH BURAM EMANSIPASI WANITA   Fri Apr 25, 2008 11:17 am

Sebuah ironi terjadi dalam perjalanan wanita Indonesia menuju emansipasi yang telah diidam-idamkan oleh pelopor emansipasi wanita, R.A. Kartini jauh ratusan tahun silam. Emansipasi yang dewasa ini lebih diartikan sebagai upaya penyamaan derajat kaum wanita untuk sejajar dengan kaum pria membuat wanita Indonesia harus gigit jari. Dalam dunia politik misalnya, tuntutan persamaan hak membuat pemerintah kemudian mengakomodasi keterwakilan perempuan Indonesia dengan kuota 30 % yang diatur dalam UU partai politik dan UU pemilu. Ini merupakan angin segar bagi warga negara yang selama ini selalu disubordinasikan oleh budaya patriarki dan pandangan parsial agama terhadap perempuan. Ironisnya, kuota tersebut menjadi alas an bagi mesin politik parpol untuk memanfaatkan perempuan hanya untuk mendapatkan suara atau sebagai vote getter (meminjam istilah Madani Nurhayati). Sedangkan dalam praktek lapangan tetaplah para kader pria yang lebih ditonjolkan.
Dari sisi peran sosial tak jauh berbeda, perempuan memang mulai terlihat mengerjakan hal-hal yang dahulunya didominasi dan menjadi eksklusifitas lelaki. Namun, perempuan-perempuan seperti ini juga kadang terjebakdalam peran sosial tersebut. Lihat saja kasus para wanita yang meggantikan posisi suaminya untuk mencari nafkah bahkan sampai harus melanglang buana menjadi TKI ke luar negeri. Banyak dari mereka harus menelan pil pahit dengan memperoleh penganiyaan fisik, diperkosa serta didzolimi dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh lainnya. Perlakuan seperti itu didapatkan dari sang majikan yang notabenenya adalah pria. Peristiwa in seringkali pada perempuan-perempuan Indonesia dengan latar belakang ekonomi kurang berkecukupan. Mereka akhirnya hanya bisa pasrah dan legowo bila kahirnya dikecewakan dalam niat suci dan mulianya untuk menghidupi keluarga.
Sedangkan untuk perempuan Indonesia yang mengaku diri moder dan berkecukupan, saya kira mereka tidaklah lebih beruntung. Fenomena makin besarnya angka perempuan yang bekerja di media baik itu di belakang layer maupun sebagai objek pemberitaan dan hiburan, atau fenomena menjadi terkenal dengan cara instant oleh casting dan ajang pencarian bakat di media. Ini seakan menjadi stimuli candu bagi perempuan-perempuan cantik dan modern tersebut. Dengan mengatasnamakan emansipasi mereka tampil di media khususnya televise sebagai ikon hiburan yang tanpa mereka sadari juga menjadikan mereka ikon kapitalis. Saya katakan ikon kapitalis disini kareena sudah menjadi wacana dan sering diangkat dalam diskusi ilmiah bahwa kapitalisme media merujuk salah satunya pada pornomedia –hal-hal yag membangkitkan syahwat- ini sudah tak bisa dipungkiri. Da bahwa objek dari pornomedia tersebut, apa lagi kalau bukan sensitifitas dan keindahan wanita. Wanita dieksploitasi untuk kepentingan para konglomerat media. Contohnya, begitu banyak iklan di televise yang menggunkan perempuan dan sifat-sifat keindahan mereka untuk memasrakan produk-produk iklan tersebut. Atau para selebritis, penyanyi, dan pemain film yang atas nama emansipasi berani mempertontonkan aurat di hadapan publik, yang dalam pandangan saya hanya menguntungkan satu pihak yakni pihak kaum patriarkat –lelaki- . dengan demikian perempuan-perempuan yang mengaku modern ini tak jauh bedanya dengan perempuan yang secara terang- terangan dilecehkan. Bukankah bedanya hanya pada kesadaran dilecehkan, disubordinasikan dan dimanfaatkan. Apakah inilah yang dikatakan emansipasi?

Media Menyuburkan Emansipasi Semu

Dalam media massa kita, tak sedikit pula yang mengangkat isyu stereotype perempuan dalam iklan dan film-film, yang malah menyuburkan pandangan diskrimanatif terhadap perempuan. Contohnya, iklan-iklan bumbu dapur, makanan instant, pembersih lantai, pembersih piring dan sejenisnya, yang mempertonotnkan wanita sebagai subjek pelaku pekerjaan-pekerjaan tersebut. Seolah lelaki tidak boleh memasak dan membersihkan rumah, bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah pekerjaan feminin yang menjadi urusan perempuan saja. Bukanlah ini berarti media malah menyuburkan stereotype tersebut.
Prof. Burhan Bngin menyatakan bahwa iklan-iklan tersebut hanya mengembalikan perempuan ke stereotype yang telah ada, bahwa apa yang perempuan lakukan dalam iklan-iklan itu hanyalah untuk menyenangkan orang lain, terutama laki-laki. Sedangkan ia sendiri adalah bagian dari upaya menyenangkan bukan menikmati rasa senangnya, perempuan hanya senang kalau orang lain amerasa senang, dan tanpa sadar mereka juga merasa senang dirinya dieksploitasi. Ketika perempuan-perempuan yang menjadi ikon iklan-iklan tersebut ditanya, mereka akan serta merta menjawab bahwa ini merupakan tuntutan profesi atau adalah upaya mereka dalam memenuhi peran sosialnya.alih-alih mengejar emansipasi mereka malah turut mensubordinasikan kaumnya. Inilah wujud emansipasi semu yang disuburkan oleh media.
Struktur muatan pembingkaian pesan media massa secara global memang belum merespons kepentingan perempuan di ranah publik secara seimbang dan murni untuk memperjuangkan atau mengangkat harkat wanita. Dimana-mana media seolah membenarkan anggpan-anggpan para wanita akan emansipasi semu yang mereka perjuangkan. Media menyorot berita-berita artis perempuan yang dicekal karena menghibur rakyat dengan mencekoki tontotan aurat mereka. Sayangnya media mengangkat berita tersebut dengan menggunakan frame hak emansipasi artis wanita itu. Yang muncul adalah realitas hasil konstruksi bahwa wanita-wanita itu telah dilanggar hak-haknya, dengan menampilkan sosok mereka yang sedang menangis dan lemah. Masyarakat terbuai dengan emansipasi semu hasil bentukan media yang notabenenya dikuaisai oleh kaum patriarkat modern Indonesia, yakni mereka yang masih menganut paham patriarki namun bertindak seolah-oleh memberikan kesempatan bagi perempuan, padahal esensinya tetaplah kaum perempuan itu ditempatkan pada posisi “orang belakang”. Mereka adalah para lelaki yang begitu sennag melihat para wanita meliuk-liukan badan di pentas seni hiburan. Sungguh sesuatu yang membuat miris kaum wanita.
Ada 2 hal untuk menjelaskan bagaimana emansipasi semu digarap oleh media. Pertama, media telah berhasil mengurangi persepsi masyarakat bahwa aktivitas profesi tertentu hanya dikerjakan oleh laki-laki dan menggiring pola piker wanita untuk menganggap bahwa profesi apapun yang diembankan padanya adalah bentuk emansipasinya, ini bisa dikatakan sisi positif. Kedua, di sisi lainnya media melembagakan kembali persepsi bias gender dan stereotype ketika perempuan-perempuan cantik hanya diperlakukan secara professional karena motif kecantikannya, keindahan tubuhnya dan bukan karena kecerdasan, keuletan dan agresifitas kerjanya. Seolah perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap, pemanis dan penghangat suasana kerja. Dua hal tersebut tercermin dalam produk-produk media iklan film dan tayangan televise lainnya. Dan dua hal ini juga terrealisasi di lapangan. Contohnya, begitu banyak perusahaan menerima recruitment pegawai wanita dengan syarat utama berpenampilan menarik dan cantik secara fisik. Saya yakin, dalam kepala pengelola perusahaan terbentuk stereotype tertentu untuk emmanfaatkan keindahan fisik pelamar dan juga mendiskriminasi bukan hanya perempuan dengan lelaki tetapi perempuan cantik dengan yang tidak cantik.

Saatnya Mengahapus Air mata Kartini

Bila pejuang emansipasi wanita R.A. Kartini masih berada di tengah-tengah kita saat ini, saya yakin pastilah beliau akan menitikkan air mata melihat kaumnya terbuai dalam emansipasi semu Crying or Very sad . Karenanya, perempuan-perempuan Indonesia sudah saatnya kembali mereoriemtasi perjuangannya dalam pensejajaran derajat dengan kaum pria yang menjadi partner hidup perempuan. R.A. Kartini sebagai wanita pribumi yang mempelopori hak emansipasi, dari sejarah hidupnya telah mengajarkan bahwa emansipasi bukan hanya persoalan diberi peluang kerja atau tidak. Namun lebih dari itu, emansipasi haruslah tertanam dalam pengetahuan, rasa dan kesadaran para perempuan untuk tidak di stereotype dan dinomer-duakan. Jangan mau menjadi objek hegemoni patriarkat dan malah membantu menyuburkan paham dan budaya tersebut. Perempuan seharusnya dibantu oleh pemerintah dan media untuk bergotong royong dalam membentuk pola relasi anti-patriarkat yang mewujudkan, sedapat mungkin menghilangkan kesenjangan hubungan, pembagian kerja yang tidak proporsional dan profesional, stereotype, subordinasi serta pemanfaatan perempuan dalam berbagai praktek di masyarakat.
Beberapa catatan yang dapat menjadi tolak ukur menuju emansipasi seperti yang diidamkan oleh R.A. Kartini adalah sebagai berikut; Pertama, seberapa besar partisipasi aktif perempuan baik dalam perumusan kebijakan atau pengamilan keputusan dan perencanaan maupun dalam pelaksanaan program kegiatan. Kedua, seberapa besar manfaat yang diperoleh perempuan dari hasil pelaksanaan kegiatan baik sebagai pelaku maupun pemanfaat hasilnya. Ketiga, Seberapa besar akses kontrol perempuan dalam pennggunaan berbagai sumber daya.
Tiga hal tersebut paling tidak mencerminkan cita-cita pahlawan emansipasi kita. Perempuan boleh saja bekerja, namun bahwa dalam pekerjaan itu tidak ada praktek-praktek patriarkat, maka barulah hal itu disebut emansipasi sepenuhnya Exclamation . Dengan pemahaman demikian, dapatlah kita menghapus air mata R.A. Kartini yang sedang tersedu melihat nasib perempuan-perempuan bangsa ini Exclamation Exclamation Exclamation .


Esti Maryanti Ipaenim

Mahsiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP
Universitas Merdeka Malang
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://profiles.friendster.com/icetea040403
 
WAJAH BURAM EMANSIPASI WANITA
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ALuMni SMA nEgERi 11 aMbOn :: FORUM DISKUSI :: Tabaosss-
Navigasi: